“Henry aku mau makan mangga”, perintah Sang Ratu kepada Henry, kepala protokoler istana.
“Tapi mangga hanya ada di India Yang Mulia Ratu”, jawab Henry. Dalam hati dia bertanya-tanya, pikiran sang ratu sudah dipengaruhi apa oleh pelayan barunya yang seorang India.
“Tapi aku kan penguasa India. Jadi aku minta satu buah mangga dikirim ke sini”, dan kemudian Ratu Victoria berjalan meninggalkan ruangan, diiringi oleh Abdul Khareem, pelayannya yang tampan, seorang India Muslim dari perkampungan Taj Mahal.
Di lain kesempatan saat sang ratu meminta untuk diajari bahasa Hindi, pelayan pun menyarankan agar belajar bahasa Urdu saja yang dianggap paling terhormat. Bahasa India Muslim yang menggunakan huruf Arab sebagai tulisan pengantarnya.
Sang Ratu jadi semakin sering menghabiskan waktu hariannya bersama Abdul. Bahkan Abdul menjadi orang kepercayaan Ratu, melebihi perannya yang sebetulnya hanyalah seorang pelayan.
Tak kuasa menahan kesedihannya ditinggal oleh orang-orang tercinta, menderita sebagai seorang Ratu yang dibenci banyak orang di seluruh dunia, Ratu pun mencurahkan isi perasaan kepada pelayannya. Sang Ratu Britania Raya itupun bertanya, “Apa gunanya hidup seperti ini Abdul? Apa gunanya hidup begini?” Sembari menitikkan air mata.
Abdul menjawab, “Untuk mengadi/beribadah Yang Mulia, saya pikir kita di dunia bukan untuk mengkhawatirkan keadaan kita sendiri. Kita di sini untuk tujuan yang lebih besar. Dalam Al Qur’an dikatakan, kita di sini untuk kebaikan orang lain”
“Al Qur’an?” Tanya sang Ratu.
“Iya, saya seorang Hafidz, dan saya hafal isi Al Qur’an, dalam hati” si pelayan menjelaskan.
“Hafal semuanya? Bukankan itu sangat panjang?” Sang ratu heran.
“Terdiri dari 114 surat, dah memuat 6.236 ayat.”
Sebut si pelayan.
“Dan kau mengerti setiap ayatnya?”
Sang ratu penasaran.
“Banyak ummat muslim yang memahami Al Quran yang Mulia” jawab Si pelayan.
“Aku pikir kau seorang Hindu”
“Saya mempelajari Al Qur’an dari ayah saya, ayah saya adalah guru saya”
“Kalau begitu bersediakah kau menjadi guru seorang Ratu?”
“Tapi saya hanyalah seorang pelayan, Yang Mulia, dan pelayan tak bisa menjadi seorang guru.”
“Kau bukan lagi seorang pelayan mulai sekarang. Kau adalah guruku. Kau yang akan mengajariku bahasa Urdu, isi Al Qur’an dan apapun yang kau pikir bisa diajarkan padaku”
Sang ratu menutup pembicaraan.
Penasaran kan? Tonton filmnya di:
Dikirim dari telepon Mi saya

Tags:

Leave a Reply