Anti Atlet Mutasi, LeKOP Harus Berani Unjuk Aspirasi Pertemuan Tokoh Olahraga Kaltim OLAHRAGA | Kamis, 30/Juli/2015 07:36 | dibaca: 22 kali UNTUK PRESTASI: Seusai berdiskusi tentang prestasi Kaltim di kancah nasional, jajaran KONI, LeKOP, dan tokoh olahraga Kaltim foto bersama di Kolam Pemancingan Rumah Ulin Arya, kemarin. (RENDY FAUZAN/KP) Penggiat olahraga Kaltim perlu duduk satu meja jika ingin membicarakan langkah strategis mempertahankan posisi lima besar di multievent Pekan Olahraga Nasional (PON). Setelah sekian lama hanya saling lempar pandangan, untuk pertama kalinya KONI Kaltim dan Lembaga Kajian Olahraga Prestasi (LeKOP) Kaltim bertatap muka untuk mendiskusikan masalah tersebut. RENDY FAUZAN, Samarinda DI Kolam Pemancingan Rumah Ulin Arya di Jalan PM Noor, Rabu (29/7) siang kemarin, kegiatan tersebut dihadiri oleh tokoh olahraga Kaltim. Rombongan KONI Kaltim dipimpin ketuanya, Zuhdi Yahya. Sabran Malisi dan kawan-kawan dari LeKOP Kaltim, dan Achmad Husry sebagai tokoh olahraga Benua Etam sekaligus tuan rumah. Banyak hal yang dibicarakan dalam pertemuan tersebut. Salah satu yang terpenting yakni persiapan Kaltim menghadapi kualifikasi Pekan Olahraga Nasional (Pra-PON) yang jatuh tahun ini. Ketua KONI Kaltim Zuhdi Yahya membuka diskusi tersebut dengan penyampaian keadaan terakhir atlet Kaltim yang bersiap mengikuti ajang tersebut. “Kita sudah memulakan Desentralisasi Mandiri sejak Februari 2014. Ditarik hingga waktu pelaksanaan, ada 2 tahun 8 bulan bagi Kaltim untuk mematangkan persiapan,” ucapnya. Sedangkan sebulan jelang Pra-PON untuk masing-masing cabang olahraga (cabor) dapat jatah untuk melakukan pemusatan latihan. Lanjutnya, setelah Pra-PON nanti, diharapkan enam bulan sebelum pelaksanaan PON XIX/2016 di Jawa Barat, atlet Benua Etam sudah bisa memulakan pemusatan latihan terpadu atau sentralisasi. “Harapannya sudah bisa dimulakan pada awal tahun. Tetapi untuk antisipasi, maksimal enam bulan sebelum PON, kita sudah harus memulai sentralisasi,” ucapnya. Dirinya komit Kaltim tidak akan menggunakan atlet dari luar daerah. Dia menjelaskan, Kaltim sebagai salah satu daerah penghasil atlet potensial malah menjadi sasaran daerah lain untuk atletnya mutasi. “Dari PABBSI, kita sudah dipastikan kehilangan satu emas setelah Eko Yuli Irawan dinyatakan pindah ke Jatim. Sudah diusahakan, namun keputusan tersebut sudah final,” jelasnya. Sedangkan untuk pendukung pelaksanaan kegiatan atlet, dirinya menjelaskan KONI Kaltim terus mencicil sejumlah peralatan yang sifatnya vital untuk kegiatan atlet selama berlatih. Harapannya peralatan tersebut sudah bisa digunakan pada Desentralisasi Mandiri kali ini. “Karena ini tahun penting. Kita harus habis-habisan di fase ini. Dari dana yang ada, kami usahakan bisa mencukupi segala keperluan atlet. Sementara ini diprioritaskan alat melekat di tubuh atlet saja yang bisa dibantu,” terang pria yang juga bekerja sebagai dosen ini. Dari hasil analisis sementara, Kaltim memang harus bekerja ekstra untuk bisa mengamankan posisi lima besar. Terdapat sejumlah pesaing dengan jumlah lebih dari lima menjadi alasannya. “Ada DKI Jakarta, Jatim, Jabar, Jateng, Riau, yang memang harus disoroti penuh peta kekuatanya. Selain itu ada sejumlah daerah yang mulai menunjukkan peningkatan seperti Sumut, Bali, dan Sulsel,” ucapnya. Sedangkan dari Achmad Husry dalam penilaiannya, KONI Kaltim telah mempersiapkan program dengan baik. Tinggal bagaimana ada dukungan penuh dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kaltim, terutama urusan dana. “Kalau dana tidak ada dan atlet ditarget berprestasi tinggi, itu ibaratnya seperti pungguk merindukan bulan,” jelasnya. Sekaligus dirinya mengingatkan agar LeKOP Kaltim bisa menunjukkan peran lebih intens untuk mengawal olahraga Kaltim hingga penampilan terbaiknya. “Perlu keberanian untuk menyampaikan aspirasinya agar bisa diserap dan prestasi bisa dibentuk dari sana,” terang dia. Sementara itu, Ketua LeKOP Kaltim Sabran Malisi menyebut, perlu ada langkah serius yang harus diambil pemerintah jika benar-benar ingin memberi apresiasi nyata kepada atlet yang berhasil berprestasi di ajang PON nanti. “Ditambah dengan bonus uang yang dijanjikan, tentu akan menjadi motivasi berlebih bagi atlet. Untuk bonus rumah mungkin bisa dipertimbangkan dibangun di daerah lain, tidak hanya di Samarinda. Pada dasarnya atlet Kaltim tidak hanya dari Samarinda,” pungkasnya. (*/is/k18)

Tags:

Leave a Reply