Bangunan Rp 3 T Jadi Sarang Tikus SAMARINDA | Senin, 15/Juni/2015 09:29 | dibaca: 319 kali MEMPRIHATINKAN: Lapangan bisbol di Stadion Utama Kaltim, jarang dipakai sejak PON XVII 2008 lalu. ASET megah Kaltim dengan nilai lebih dari Rp 3 triliun berdiri megah di Kecamatan Palaran, Samarinda. Kompleks olahraga tersebut dibangun untuk menghelat Pekan Olahraga Nasional (PON) XVII 2008 itu dinamai Stadion Utama Kaltim. Tujuh tahun berlalu, kondisi aset tersebut memprihatinkan. Sarana dan prasarana di sana kini hanya menjadi saksi bisu perhelatan akbar olahraga nasional. Gubernur Awang Faroek Ishak tampak geram. Wacana pengelolaan bermunculan hingga mengerucut pada dua pilihan, yakni dikelola pemerintah atau swasta. “Nanti dibahas lebih lanjut, mana yang lebih mendukung. Dikelola UPTD atau swasta. Venue banyak yang terbengkalai. Anda (wartawan, Red) kan tahu kalau saya mulai dulu mengeluhkan itu. Bukan baru sekarang. Kolam renang jadi sarang tikus. Kalau ada pengusaha yang mau, boleh datang ke saya,” ucap Gubernur yang duduk di kursi roda saat dijumpai pekan lalu. Dia pun berencana menghidupkan kompleks olahraga tersebut, pemprov akan menggelar kejuaraan sepak bola antarkabupaten/kota dalam rangka HUT Pemprov Kaltim. Sementara itu, Ketua Komisi IV DPRD Kaltim Zain Taufik Nurrohman mengatakan, perlu terobosan berbentuk program terukur dan skenario terhadap optimalisasi pemanfaatan aset bernilai Rp 3 triliun tersebut. Ditambahkan Zain, pemprov mesti proaktif mengomunikasikan ke induk organisasi olahraga agar ketika ada event bertaraf nasional dan internasional diarahkan ke Stadion Utama Kaltim. Pasalnya, lanjut dia, sarana dan prasarana di Palaran memadai. Hanya, mesti diingat pula, pemerintah daerah bertanggung jawab terhadap pembenahan infrastruktur penunjang. “Longsor dan jalan rusak menuju stadion harus ditangani dulu,” ucapnya. Jadi, serbasalah ketika biaya perawatan stadion megah tersebut harus terus “menyusu” ke APBD Kaltim. Sementara itu, pendapatan dari pemanfaatan aset tersebut nihil. “Sebenarnya sudah lama juga pemerintah membuat langkah pemanfaatan. Tapi, tidak progres,” ujarnya. Dalam rapat internal Komisi IV, permasalahan tersebut mengemuka untuk disikapi. “Dijadwalkan, pekan depan RDP (rapat dengar pendapat, Red) dengan UPT (PKSUM Dispora),” tutur politikus PAN tersebut. Memang, kata Zain, sangat disayangkan bila stadion yang pernah menghelat PON itu bak “kuburan”. “Saya pikir pemprov harus sekaligus jadi EO (event organizer). Barang bagus, kalau tidak diiklankan dengan baik, kan sayang,” katanya. (ril/riz/waz/k8)

Tags:

Leave a Reply