Bagikan berita ini :

Rabu, 28 Maret 2012 , 08:46:00
Catatan: Rusdiansyah Aras
Fulus Minim, Bisakan Tetap 3 Besar?
Rusdiansyah Aras
ALOKASI dana untuk kontingen Kaltim dalam Pekan Olahraga Nasional (PON) XVIII/2012 di Riau nanti sangat minim. Hanya Rp 80 miliar. Jumlah yang kalah jauh dengan provinsi yang selalu bertengger di empat besar PON, yakni Jatim dan Jabar yang masing-masing Rp 150 miliar. Bahkan PON DKI Jakarta mendapat alokasi Rp 300 miliar.
Padahal, APBD Kaltim tahun ini lumayan besar. Menyentuh Rp 10,2 triliun, yang bersumber dari penerimaan pendapatan Rp 8,7 triliun. Rinciannya pendapatan asli daerah (PDA) Rp 4,29 triliun, dana perimbangan Rp 4,39 triliun, dan pendapatan daerah lainnya yang sah Rp 11,4 miliar. Sedang pembiayaan penerimaan direncanakan Rp 1,5 triliun yang bersumber pada Silpa 2011.
Melihat angka-angka itu, mestinya anggaran yang diajukan KONI Kaltim Rp 205 miliar bisa dipenuhi. Bahkan alokasi dana untuk kontingen Kaltim harusnya bisa ditambah. Ini penting agar kontingen bisa mempertahankan posisi tiga besar pada PON XVIII/2012 itu.
Anggaran yang dialokasikan ini juga untuk pembinaan, pusat pelatihan daerah (puslatda), dan uji coba. Minimnya dana dari Pemprov kepada KONI Kaltim membuat jajaran teras KONI menyesuaikan jadwal persiapan. Seperti seharusnya puslatda berlangsung 9 bulan menjadi 6 bulan, dimulai minggu pertama Maret lalu di Samarinda.
Selama puslatda berlangsung hingga kemarin, baru Wagub Kaltim Farid Wadjdy dan Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kaltim bersama Ketua Komisi II DPRD Kaltim Rusman Yakub yang meninjau.
Dana minim ini, bisa mengancam prestasi para kontingen. Pasalnya jika reward bagi atlet kecil maka kurang memicu atlet untuk berprestasi. Dengan begini, target Kaltim untuk bisa mempertahankan posisi tiga besar di ajang olahraga terbesar se-Indonesia ini bisa terancam.
Semua provinsi, termasuk Kaltim telah mengiming-imingi atlet potensial untuk menjadi PNS. Tapi itu belum cukup, karena tiap-tiap provinsi menjanjikan bonus uang berlainan. Misalnya, Riau akan menggelontor bonus Rp 250 juta dengan target 94 medali emas, Jambi Rp 150 juta dengan target 45 medali emas. DKI yang menargetkan juara umum akan memberikan bonus peraih emas perorangan Rp 200 juta. Perak Rp 75 juta, dan perunggu Rp 35 juta. Bagi berpasangan, masing-masing mendapat Rp 150 juta untuk emas, Rp 60 juta untuk perak, dan Rp 25 juta untuk perunggu.
Kategori beregu, masing-masing Rp 100 juta untuk emas, Rp 40 juta untuk perak, dan 15 juta untuk perunggu. Hebatnya lagi, di DKI atlet yang tak merengkuh prestasi tetap diberikan bonus masing-masing Rp 5 juta.
Bonus besar sebenarnya mempunyai sisi positif dan negatif. Sisi positifnya tentu saja atlet berprestasi bakal sejahtera karena menerima pendapatan besar. Negatifnya, antar-atlet yang tampil dalam partai puncak atau final bisa baku aturdemi mendapatkan bonus besar.

Menurut sumber di KONI Kaltim, potensi atlet Kaltim di tingkat junior sebenarnya sangat baik. Namun, di tingkat senior cenderung mengalami penurunan. Karena itu, pembinaan atlet harus lebih diperhatikan. Cabang-cabang olahraga yang berpotensi meraih medali dalam PON nanti, di antaranya gulat, pencak silat, panahan, kempo, sepatu roda, dan taekwondo.
Kita berharap Gubernur Kaltim Awang Faroek Ishak dan Ketua DPRD Kaltim Mukmin Faisyal bisa memberikan perhatian lebih untuk persiapan kontingen PON Kaltim, baik dari dukungan material melalui APBD-P maupun moril . Semoga Kaltim juara, Kaltim bisa!!!. (aras@kaltimpost.net/far)

Incoming search terms:

  • pembukaan pon jabar kontingen fisioterapis riau

Leave a Reply