DONGENG AKTIFKAN SIMPUL SARAF
Bayi-bayi yang rajin didongengi terbukti memiliki simpul saraf (myelin) yang lebih aktif. Sudahkah Anda melakukannya?

Sejak si kecil masih dalam kandungan, Rika sudah biasa mendongeng untuk anaknya. Banyak hal yang diceritakan, mulai dari aktivitas yang sedang dilakukannya sampai cerita-cerita sarat pesan moral yang dibaca dari beragam buku. Hingga anaknya lahir, Rika masih terus melakukan kebiasaan tersebut. Sambil memandikan, menyuapi dan bersiap tidur pun, ibu satu anak ini menyelipkan satu-dua cerita. Hasilnya? “Saya lihat perkembangan anak saya lebih cepat dibanding bayi-bayi seusianya. Saya rasa memang banyak manfaat yang bisa diperoleh dengan mendongeng pada anak sejak bayi,” ujarnya.
Ada lagi contoh nyata: seorang mempelai perempuan memilih satu lagu khusus untuk mengiringi pernikahannya. Ketika ditanya alasannya, dengan lugas ia menjawab, “Lagu ini rasanya akrab sekali di telinga saya. Katanya sewaktu bayi saya sering didongengi cerita yang tertulis sebagai syair lagu ini.” Wah, masa sih efek dongeng pada bayi bisa sedahsyat itu?
AKTIFKAN SIMPUL SARAF
“Dari banyak penelitian sudah dibuktikan bahwa mendongeng pada anak memang banyak sekali manfaatnya. Jangankan sejak bayi, bahkan ketika si anak masih dalam kandungan pun mendongeng sudah bisa dilakukan,” ujar Andi Yudha Asfandiyar, seorang pemerhati anak yang sudah berulang kali mengikuti seminar tentang dongeng di berbagai negara. Jadi kalau ada pertanyaan mulai kapan bayi bisa didongengi, jawabannya adalah sejak indra pendengaran bayi mulai berfungsi di dalam kandungan.
Ibarat sebuah gelombang radio, dengan bercerita pada anak berarti orang tua mengirim sinyal pada buah hatinya. “Kalau dilakukan dengan ketulusan hati, ‘transmisinya’ jadi semakin kuat. Anak bisa merasakan meski belum memahami sepenuhnya,” tambahnya.
Di beberapa kesempatan, Andi Yudha selalu menekankan bahwa dongeng bisa mengembangkan kecerdasan intelektual, emosional, spiritual, dan ketahanan mental anak. Ia lantas menguraikan manfaat yang bisa diperoleh dari aktivitas mendongeng pada bayi:

* mengaktifkan simpul saraf
Banyak penelitian membuktikan, cerita-cerita yang didengar anak sejak bayi dapat mengaktifkan simpul-simpul saraf di otaknya (myelin). Cara kerjanya sederhana saja kok. Seperti halnya senam otak, banyaknya informasi yang didapat anak dapat membuat otak si kecil menjadi lebih aktif. Ini pun berimbas pada perkembangan IQ-nya.
* merangsang indra
Dongeng yang disampaikan dapat merangsang indra bayi, terutama indra pendengaran dan penglihatan. Banyak pakar yang sependapat bahwa 5 tahun pertama dalam kehidupan anak merupakan masa emas atau masa sedang giat-giatnya anak menyerap berbagai hal yang didengar dan dilihat. Jadi, meski belum bisa memberikan respons yang berarti, semua cerita yang disampaikan orang tua akan ditangkap oleh indra pendengaran dan penglihatannya untuk kemudian direkam dalam memorinya. Kedua indra tersebut juga jadi terlatih menangkap sedemikian banyak informasi.
* perkembangan lebih cepat
Banyaknya informasi yang didapat oleh bayi bisa mengoptimalkan pertumbuhannya. “Jangan heran kalau bayi yang lebih sering mendengar cerita nantinya jadi lebih cepat tengkurap, merangkak dan sebagainya. Itu semua akibat perkembangan otaknya lebih optimal karena banyaknya rangsang yang diterima,” lanjut Andi Yudha.
Perkembangan kemampuan ini tidak berhenti sampai di usia bayi saja. Setelah anak tumbuh lebih besar pun banyak manfaat yang masih terasa apabila dongeng sering diperdengarkan pada bayi. “Paling tidak, karena perkembangan otaknya optimal, stimulus apa pun yang diajarkan padanya akan ditangkap lebih cepat.”
* lebih peka
Selain perkembangan kemampuan fisik dan intelektual, bayi-bayi yang sering mendengarkan orang tuanya bercerita diyakini akan tumbuh menjadi anak yang lebih peka. Seiring dengan pertambahan usianya, kepekaan ini akan mendukung sederet sikap positif lainnya, seperti rasa ingin tahu, percaya diri, sikap kritis, kemauan eksploratif, dan sebagainya. Dengan kata lain kecerdasan emosional, spiritual, dan ketahanan mentalnya kian terasah. Memang, tidak semua manfaat positif langsung terasa pada anak sejak bayi karena ada sifat-sifat yang mungkin baru terlihat setelah si anak tumbuh besar.
TAK HANYA MEMBACAKAN BUKU
Banyak yang beranggapan mendongeng untuk bayi hanya bisa dilakukan dengan cara membacakan buku cerita. “Padahal tidak hanya sebatas dengan membacakan buku,” tandas pendongeng yang baru berkeliling ke beberapa kota besar di Indonesia untuk mendongeng di Taman Kanak-Kanak.
Jadi, bagaimana lagi dong cara mendongeng untuk bayi?
1. Sambil beraktivitas
Momen-momen saat bayi makan, mandi, dipangku, ditimang, dan sebagainya bisa dimanfaatkan untuk mendongeng. “Jadi, tidak harus membacakan cerita sebelum tidur. Kalau harus selalu seperti itu sih, bisa-bisa orang tuanya yang tidur duluan,” kelakar Andi. Kendati begitu, boleh-boleh saja membacakan buku cerita tertentu untuk bayi, tapi tidak mutlak harus menggunakan cara tersebut.
2. Gunakan alat bantu
Gunakan alat bantu supaya dongeng menjadi menarik, selain memberi manfaat lebih untuk merangsang indra bayi. Misalnya dot susu yang sudah tidak terpakai diandaikan sebagai topi atau sepatunya sebagai rumah-rumahan. Demikian halnya dengan kapas, popok, botol sampo, dan sebagainya yang bisa dimanfaatkan sebagai pendukung cerita. Kelebatan benda-benda dengan warna yang berbeda-beda itu akan menarik perhatiannya sekaligus merangsang penglihatannya. Selain itu, biarkan si kecil memegang dan merasakan tekstur alat bantu dongeng tersebut yang amat bermanfaat untuk merangsang indra perabanya.
3. Mainkan intonasi suara
Intonasi suara yang berbeda-beda amat bermanfaat bagi indra pendengarannya. Selain itu intonasi yang berbeda-beda ini akan membuat cerita menjadi lebih menarik. “Coba bandingkan antara cerita yang dibacakan orang tua dengan suara datar sambil terkantuk-kantuk dengan cara bertutur yang amat hidup dan variatif. Ada suara tinggi untuk tokoh A, suara rendah untuk tokoh B, suara cempreng untuk tokoh C, dan sebagainya,” saran Andi Yudha.
4. Tambahkan gerakan
Gerakan pantomim sederhana juga bisa disisipkan saat mendongeng. Misalnya ketika bercerita tentang kuda melompat, orang tua dapat menyontohkannya dengan gerakan melompat disertai ekspresi muka yang mendukung. “Tak perlu belajar pantomim secara khusus. Cukup gerakan sederhana saja asal mendukung cerita,” lanjut Andi. Biarkan anak belajar berimajinasi sesuai dengan usianya. Bila si kecil sudah bisa membuat beberapa gerakan, tak ada salahnya memanfaatkan hal tersebut.
5. Libatkan perasaan
Seperti sudah disebutkan di atas, ketulusan orang tua bisa menjadi “transmisi” yang kuat untuk mengirim sinyal pada bayi. Ikatan batin bisa dibangun dari aktivitas tersebut. Begitu juga rasa sayang dan perhatian orang tua dapat terungkap di situ. “Banyak orang tua yang sekadar mengikuti teori untuk membacakan cerita pada bayinya meski sedang jengkel atau lelah. Jangan salah, bayi bisa merasakan itu semua lo,” kata Andi.
6. Semua hal bisa diceritakan
Ingat, tidak cuma cerita yang sarat dengan pesan moral yang bisa didongengkan pada si kecil. Kejadian sehari-hari yang paling sederhana pun bisa diceritakan. Misalnya saat mengganti popok, menyuapinya, mengajaknya jalan-jalan di taman kompleks dan sebagainya. “Untuk usia ini, cerita dengan pesan moral boleh saja sesekali diperdengarkan, tapi tidak tiap kali bercerita harus ada tokoh antagonis dan protagonisnya,” tukas Andi. Cerita yang mau didongengkan bisa disiapkan sebelumnya dengan menyontoh buku. Bisa juga spontan karena ada kejadian menarik saat itu. Intinya, banyak hal bisa dijadikan cerita untuk si kecil.
7. Batasi waktunya
Rentang perhatian dan konsentrasi bayi masih sangat terbatas. Itulah sebabnya, tidak disarankan untuk membacakan si kecil buku cerita yang tebal sampai selesai. “Cukuplah selama 2-5 menit sebagai permulaan,” sarannya. Meski waktunya singkat, tapi kalau frekuensinya sering, lebih terasa manfaatnya.
8. Kesabaran
Satu hal yang juga harus menyertai kegiatan mendongeng adalah kesabaran ekstra. Bagaimana tidak? Karena respons yang ditunjukkan bayi sering tidak terlihat. Berbeda dari anak yang usianya lebih besar, yang responsnya sudah lebih jelas, semisal senang, sebal, tertarik dan sebagainya.
Jadi, orang tualah yang harus jeli mengamati situasi, apakah bayinya sedang “enak” didongengi atau sebaliknya. “Cari kesempatan yang enak bagi orang tua maupun bayinya,” saran Andi pula.
JANGAN SALAH PILIH
Meski memberi sederet manfaat, ada beberapa hal yang mesti dicermati kala bercerita pada bayi. Yang pasti, orang tua harus pandai memilah-milah bahan cerita. Jauhkan cerita yang dapat berdampak negatif, seperti cerita tentang menjelek-jelekkan kelemahan orang lain. “Yang seperti ini ya tidak benar. Kalau yang diceritakan tidak pas, bisa-bisa malah mengganggu perkembangannya,” tukas pria yang pernah mengikuti pelatihan mengenai masalah anak-anak atas undangan ACCU-UNESCO, di Tokyo, Jepang ini.
Lalu, cerita apa lagi yang sebaiknya tidak didengar anak? “Antara lain, keluh kesah orang tua, baik mengenai keharmonisan rumah tangga maupun masalah finansial. Contohnya, ibu yang curhat pada bayinya mengenai sang mertua. Yang seperti ini jelas kurang bijaksana disamping tentu saja sama sekali tidak bermanfaat bagi anak,” tandasnya.

Selain itu orang tua harus menyadari bahwa di usia ini bayi begitu cepat menyerap semua informasi. Kalau sampai ada informasi yang keliru, bisa jadi efeknya tidak langsung terlihat saat itu juga, melainkan setelah si bayi tumbuh lebih besar. Runyam kan?

Leave a Reply